Kesulitan Belajar Pada Anak

Berikut ini ciri-ciri, penyebab, dan tip mengatasi kesulitan belajar pada anak normal, sebagaimana dipaparkan Vitriani Sumarlis, Psi., M.Si., dari sekolah Pantara Jakarta.
Saeful Imam. Foto: Ferdi Dok. nakita

CIRI-CIRI

1. Prestasi buruk/tidak optimal.
Anak menunjukkan hasil belajar yang rendah atau di bawah rata-rata nilai yang dicapai kelompoknya. Misal, anak-anak lain mendapat nilai rata-rata 7 sedangkan dia mendapat nilai 5 bahkan di bawah angka tersebut. Nilai 5 sendiri bermakna kurang, sehingga jika anak kerap mendapatkan nilai tersebut, dapat dipastikan ada masalah dalam belajarnya. Atau anak yang memiliki nilai di bawah potensi yang dimilikinya (underachiever). Anak yang sebenarnya dapat mencapai nilai di atas 90 (ini ditunjukkan dengan potensi kemampuan seperti tes IQ) tapi hanya mendapatkan nilai 60 atau 70. Meski nilai itu masih dikategorikan cukup, tapi orangtua tetap harus mencurigai anak mengalami kesulitan belajar.
2. Kehilangan motivasi.
Ditandai dengan ogah-ogahan belajar. Dia tak bersemangat meningkatkan kemampuannya. Anak juga acuh tak acuh dengan nilai rendah yang didapatnya. Tak peduli seberapa sering guru atau orangtua memperingatkannya.
3. Menunjukkan sikap negatif dalam belajar.
Anak senang membolos, kabur dari sekolah, tak mengerjakan PR, mengganggu teman saat belajar, tak mau mencatat saat belajar, dan lain-lain.
4. Menunjukkan gejala gangguan emosional.
Antara lain: mudah tersinggung, sedih berkepanjangan, senang melamun, tidak konsentrasi, mudah lupa, pemarah, pemurung, dan lain-lain.

4 FAKTOR EKSTERNAL

Lingkungan tidak kondusif berperan penting dalam memunculkan kesulitan belajar pada anak normal. Berikut penjabarannya:
1. Kebiasaan belajar yang buruk.
Antara lain: tak pernah mengulang materi yang diajarkan guru, melatih kemampuan dengan variasi soal, mendalami pelajaran, membaca buku teks pelajaran, dan tak memiliki jadwal belajar yang rutin. Penyebabnya, tak lain karena orangtua sendiri tidak menanamkan pentingnya nilai-nilai belajar kepada anak; tidak mengemukakan belajar itu penting buat masa depan, dan tidak pernah melakukan pengawasan terhadap cara belajar anak.
2. Motivasi rendah.
Rendahnya motivasi membuat anak malas-malasan atau cuek dengan prestasi belajarnya. Ini disebabkan tak adanya dukungan orangtua terhadap prestasi yang diperoleh. Jika anak gagal dalam sebuah pelajaran, tak ada motivasi atau solusi dari orangtua agar prestasi anak meningkat. Boleh jadi karena orangtua terlampau sibuk sehingga kurang memberikan perhatian, atau justru orangtua terlalu memanjakan anak. Pemanjaan berlebihan dapat membunuh motivasi anak; buat apa belajar atau bekerja keras, toh orangtua selalu membantu atau memberikan penghargaan. Atau boleh jadi anak frustrasi karena orangtua mematok target terlalu tinggi. Kesenjangan harapan dan kenyataan itu membuat anak kehilangan motivasi.
3. Gangguan emosional.
Adanya gangguan emosional pada anak akibat mengalami permasalahan dengan lingkungannya. Bisa karena permasalahan orangtua (bercerai), guru galak, konflik dengan teman, menjadi korban kekerasan, kehilangan binatang peliharaan, dan lain-lain. Akibatnya, pikiran anak terfokus pada masalahnya sendiri dan melupakan belajar, atau kalaupun belajar tidak maksimal. Boleh jadi anak mengalami masalah gangguan konsentrasi lantaran masalah emosionalnya ini, tapi bukan ADHD/ADD (lihat “Mengenal si ADHD”). Jadi, anak sebenarnya tidak konsentrasi karena tidak mau memfokuskan perhatiannya pada objek, melainkan pada masalah yang sedang dihadapinya. Umumnya, gangguan ini dapat segera dipulihkan dengan segera setelah permasalahan yang dialaminya diselesaikan. Biasanya ini terjadi pada anak yang tertutup, atau orangtua tak pernah mengajarkan bagaimana memecahkan masalah, mengatasi konflik, melatih kemandirian, bersikap asertif, dan lain-lain.
4. Metode mengajar tidak tepat.
Informasi yang disampaikan tak dapat diserap dengan baik oleh anak. Bisa jadi karena guru tidak menguasai pelajaran, tidak kreatif sehingga pengajaran bersifat membosankan, atau cara penyampaiannya sulit dicerna, dan sebagainya.

TIP MENGATASI

1. Tanamkan pentingnya nilai-nilai belajar.
Jelaskan, apa manfaat yang dapat dirasakan anak dari belajar, misal, kemampuan membaca, menghitung, wawasan luas. Juga pentingnya belajar untuk masa depan, bahwa agar sukses menekuni profesi saat dewasa, anak harus rajin belajar dari sekarang. Ajarkan pula untuk mengatur waktu belajarnya. Buatlah jadwal belajar yang tetap dan teratur setiap harinya. Diusahakan seimbang dengan aktivitas lainnya seperti bermain. Belikan buku-buku pendukung untuk belajarnya. Jika memungkinkan, bimbing anak secara langsung saat belajar.
2. Kontrol prestasi anak.
Jangan acuh tak acuh dengan prestasi yang diraih anak. Jika tiba-tiba nilainya anjlok, coba teliti apakah penyebabnya. Jika perlu, orangtua dapat mendatangkan guru privat. Jangan segan untuk memuji kemajuan yang diraih. Sekecil apa pun itu. Jika nilai matematika anak biasanya 6, orangtua dapat memberikan pujian begitu nilainya mendadak 7. Selain itu, usahakan untuk meningkatkan kemampuan anak sedikit demi sedikit secara bertahap. Yang tadinya 6 menjadi 7, lalu dari 7 menjadi 7,5, begitu selanjutnya sesuai dengan potensi yang dimiliki anak.
3. Aplikasi.
Di rumah, orangtua dapat mengajari anak bagaimana mendalami materi pelajaran lewat aplikasi. Jika di sekolah belajar berhitung, orangtua dapat mengaplikasikannya dengan meminta anak belanja sendiri, menghitung barang yang hendak dibeli, berapa uang yang dibutuhkan, berapa kembalian, dan lain-lain. Selain merasakan manfaat langsung dari belajar, lewat aplikasi kemampuan berhitung anak ikut terasah.
4. Pilih sekolah terbaik.
Bukan dilihat dari fasilitasnya yang “wah” dan bayarannya selangit, tapi sumber daya manusia yang mendukung, pun metode belajar yang digunakan. Sehingga, anak dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
5. Ciptakan keterbukaan.
Anak dibiasakan terbuka kepada orangtua, apa sajakah permasalahan yang dihadapi. Buat dialog hangat sepulang sekolah, apa sajakah pengalamannya, baik suka atau duka. Bagaimana perilaku teman-temannya, siapa yang dekat dan baik, siapa pula yang nakal dan senang berbuat iseng. Dengan begitu, orangtua dapat mendeteksi secara dini jika suatu saat terjadi permasalahan pada anak.
6. Ajarkan atasi konflik.
Bagaimana bersikap asertif, memperjuangkan hak-haknya tanpa merugikan teman, cara mengatasi konflik tanpa kekerasan, dan sebagainya. Dengan demikian, anak tak gampang tertekan saat mengalami konflik dengan temannya. Jika tak diatasi, sangat mungkin anak akan memiliki prestasi rendah, sering tidak naik kelas, melakukan kenakalan-kenakalan, dan sebagainya. Kemungkinan lain, anak dapat tumbuh menjadi anak yang underachiever; anak memiliki prestasi di bawah kemampuan potensi sebenarnya. Bahkan, bukan tak mungkin dia akan minder karena merasa tidak memiliki kemampuan akademis seperti yang dimiliki teman-temannya. Dampaknya bisa lebih buruk lagi, anak dapat mogok sekolah atau bahkan putus sekolah. Tak ingin buah hati kita mengalaminya, bukan?

Sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah09457-04.htm

Best Regards!

-ANTARES Privat-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s